BONDOWOSO, RADAR INDONESIA.COM – Di saat sebagian orang masih menikmati waktu istirahat atau baru bersiap memulai aktivitas, para pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonosuko, Kecamatan Tamanan, Bondowoso, sudah sibuk bergerak memulai tugas.
Mulai saat embun pagi masih menyelimuti jalanan hingga matahari berada di atas kepala, mereka berjuang sekuat tenaga memastikan makanan MBG sampai ke tangan siswa tepat pada waktunya. Hal ini dilakukan agar penyajian makanan di sekolah tidak terlambat dan tetap sesuai jadwal.
Setelah tim dapur selesai memasak, mengemas, dan memverifikasi kelengkapan makanan, tugas berat selanjutnya berada di pundak para pengantar. Mereka adalah garda terdepan yang menjadi penghubung antara dapur SPPG dengan puluhan satuan pendidikan yang tersebar di wilayah Kecamatan Tamanan.
Dengan menggunakan kendaraan operasional yang telah disiapkan dan dilengkapi kotak penyimpanan khusus, mereka berangkat beriringan menuju sekolah-sekolah tujuan. Kotak penyimpanan tersebut berfungsi menjaga suhu makanan tetap hangat serta memastikan kebersihan dan kualitas makanan tetap terjaga selama perjalanan.
Bagi para pengantar, waktu menjadi tantangan terbesar sekaligus prioritas utama. Distribusi harus dilakukan dengan ritme cepat namun tetap berhati-hati, mengingat muatan yang dibawa adalah makanan yang harus tetap utuh, tidak tumpah, dan higienis saat diterima siswa.
Beragam rute perjalanan, kondisi jalan yang kadang padat, hingga jarak tempuh yang berbeda antar sekolah, harus mereka perhitungkan dengan presisi. Tujuannya satu, agar semua pesanan tiba sesuai jadwal yang telah disepakati bersama pihak sekolah.
Bagi para pengantar MBG, keterlambatan sedikit saja bisa berdampak besar. Jika makanan terlambat datang, jam makan siswa bisa terganggu, jadwal pelajaran terpotong, bahkan dikhawatirkan makanan tidak lagi dalam kondisi terbaik untuk disantap.
Oleh sebab itu, mereka memacu kerja keras sejak pagi saat proses pengemasan dimulai. Tugas mereka baru dianggap selesai setelah semua titik distribusi dipastikan terlayani dengan baik, hingga tahap pengambilan kembali wadah atau perlengkapan makan dari sekolah dan dibawa pulang ke dapur SPPG pada siang hari.
Salah satu pengantar MBG, Yusron, warga Desa Wonosuko, mengaku bahwa tugas ini menuntut fisik yang prima dan kemampuan manajemen waktu yang ketat. Meski harus berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain di bawah terik matahari, ia mengaku bangga bisa menjadi bagian dari program besar pemerintah ini.
“Kami mulai persiapan jauh sebelum matahari terbit. Target kami satu: makanan harus sudah ada di sekolah sebelum jam istirahat atau jam makan tiba. Tidak boleh terlambat sedikit pun, karena ini menyangkut perut dan gizi anak-anak. Kalau kami telat, kasihan siswanya jadi menunggu. Lelah itu biasa, tapi kalau sampai di sekolah makanan masih hangat dan utuh, rasa lelah itu hilang seketika,” ungkap Yusron saat ditemui, Selasa (2/6/2026).
Ia menambahkan, setiap hari ia dan rekan kerjanya membagi zona wilayah agar distribusi lebih efisien. Dalam satu hari, setiap kendaraan harus mengantar ke berbagai sekolah yang mencakup jenjang pendidikan mulai dari PAUD, SD, hingga SMA.
Menurut Yusron, kerja sama tim yang solid dan pemahaman mendalam mengenai rute jalan menjadi kunci agar proses pengantaran berjalan lancar dari pagi hingga siang hari.
“Kadang jalanan macet atau ada kondisi jalan yang rusak, kami harus segera cari jalan alternatif. Pokoknya kami berjuang semampu kami, sekuat tenaga, agar makanan dari dapur yang sudah dimasak enak dan bergizi ini sampai ke meja makan siswa dengan kondisi yang baik,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dapur SPPG Wonosuko, Izzat Abdi, sangat mengapresiasi dedikasi tinggi yang ditunjukkan para tim pengantar ini. Menurutnya, keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh proses memasak di dapur, tetapi sangat bergantung pada ketepatan waktu pengantaran ini.
“Tim pengantar ini juga merupakan pahlawan di balik layar keberhasilan MBG. Mereka yang bertugas berpanas-panasan di jalanan. Berkat kegigihan mereka, sampai saat ini tingkat ketepatan waktu pengantaran kami hampir 100 persen. Makanan datang tepat waktu, siswa senang, guru pun merasa sangat terbantu,” ujar Izzat.
Para guru dan pihak sekolah pun mengaku sangat terbantu dengan pelayanan distribusi yang disiplin waktu ini. Keteraturan kedatangan makanan membuat jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berjalan kondusif dan tidak terganggu.
Perjuangan para pengantar ini membuktikan bahwa keberhasilan program Makan Bergizi Gratis didukung oleh kerja keras seluruh elemen, mulai dari yang memasak di dapur hingga yang mengantar ke lokasi. Bagi mereka, ketepatan waktu adalah bentuk tanggung jawab menjamin gizi anak bangsa tidak terhambat oleh apa pun.
Menjelang siang hari, kendaraan-kendaraan pengantar mulai kembali ke dapur. Kondisi kotak makanan yang sudah kosong menjadi tanda bahwa seluruh makanan telah tersalurkan dengan baik hingga piring siswa. Mereka pun bersiap istirahat sejenak, sebelum kembali bersiap melakukan hal yang sama esok pagi demi ribuan siswa yang menanti asupan gizi terbaik.
Penulis: Ubay






