BONDOWOSO, RADAR INDONESIA. COM –Kopi hingga aneka olahan singkong khas Bondowoso menarik perhatian delegasi pemerintah daerah Kamerun, Afrika Tengah. Kunjungan ke Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tak sekadar menjadi ajang penjajakan kerja sama antar pemerintah daerah, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan pertanian, ekowisata, hingga perdagangan lintas negara.
Peluang tersebut mengemuka saat sejumlah delegasi pemerintah daerah Kamerun diterima di Pendopo Bupati Bondowoso, Senin (19/10/2026). Rombongan tertarik mempelajari bagaimana potensi sumber daya alam dan komoditas lokal dikembangkan menjadi produk bernilai tambah serta destinasi wisata yang berkelanjutan.
Kunjungan ini menjadi momentum bagi Bondowoso untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menjajaki peluang kolaborasi dengan wilayah di Afrika Tengah yang memiliki karakteristik sumber daya alam serupa.
Wali Kota Diang, Kamerun, Germain Medard Belinga Evoune, mengatakan pihaknya ingin mempelajari strategi pengembangan destinasi wisata yang diterapkan di Indonesia, khususnya dalam mengoptimalkan potensi lokal.
Menurutnya, Kamerun memiliki potensi wisata yang memiliki kemiripan dengan Bondowoso. Karena itu, pengalaman dan kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengembangkan destinasi wisata menjadi hal yang menarik untuk dipelajari.
Ia berharap kunjungan tersebut dapat memberikan inspirasi bagi pengembangan pariwisata di daerahnya.
Ketertarikan terhadap Bondowoso tidak hanya datang dari sektor pariwisata. Wali Kota Bibemi, Yedi Armand, menilai peluang kerja sama juga terbuka dalam pengembangan pertanian melalui transfer kompetensi dan teknologi.
“Kerja sama yang diinginkan adalah transfer kompetensi. Kamerun dan Indonesia memiliki banyak kesamaan, tetapi Indonesia sudah berhasil mengembangkannya lebih jauh,” ujarnya.
Ia menyebut teknologi pertanian, termasuk pengembangan pertanian organik, sebagai salah satu bidang yang ingin dipelajari. Meski pertanian organik telah berkembang di Kamerun, pemanfaatan teknologi dinilai masih dapat ditingkatkan.
Ekowisata dan Teknologi Jadi Peluang Kolaborasi
Sekretaris Daerah Kota Pouma, Patience Julie Ngo Mbihnum, turut mengapresiasi pendekatan pembangunan Bondowoso yang dinilai mampu mengembangkan kekayaan alam tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan budaya lokal.
“Hal yang menarik dari Bondowoso adalah bagaimana mereka bisa mengembangkan kekayaan alam yang dimiliki dengan tetap mempertahankan unsur alam dan budayanya. Modernisasi tanpa merusak,” tuturnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa potensi kerja sama tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi juga pada pengembangan wilayah yang berkelanjutan.
Bagi Bondowoso, peluang ini dapat menjadi ruang untuk memperluas jejaring internasional, memperkenalkan produk unggulan daerah, serta berbagi pengalaman dalam pengelolaan pertanian dan destinasi wisata berbasis alam.
Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan tindak lanjut konkret agar penjajakan tidak berhenti pada kunjungan dan pertukaran gagasan.
Komitmen Perdagangan Naik Jadi 60 Juta Dolar AS
Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Yaoundé, Kamerun, Tomy Lutvan Abqory, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaoundé untuk mempertemukan delegasi Kamerun dengan pemerintah daerah Indonesia yang memiliki potensi kerja sama sesuai kebutuhan mereka.
Selain Bondowoso, rombongan juga dijadwalkan mengunjungi Probolinggo dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Sejumlah bidang yang menjadi perhatian meliputi penataan kota, pengelolaan sampah, pertanian, perikanan, serta pemanfaatan teknologi pendukung, termasuk pupuk dan peralatan pertanian.
“Kami mengidentifikasi mitra-mitra yang sesuai dengan kebutuhan delegasi Kamerun. Bondowoso menjadi salah satu pemerintah daerah yang dinilai memiliki potensi untuk menjalin kerja sama tersebut,” jelas Tomy.
Ia juga melihat peluang perdagangan yang cukup terbuka. Kamerun, dengan jumlah penduduk sekitar 30 juta jiwa, dinilai memiliki posisi strategis sebagai penghubung menuju sejumlah negara di kawasan sekitarnya.
Menurut Tomy, komitmen perdagangan yang difasilitasi KBRI Yaoundé meningkat dari 19,5 juta dolar AS pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 60 juta dolar AS pada tahun ini. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah delegasi bisnis Kamerun yang difasilitasi untuk menjajaki peluang usaha di Indonesia.
Meski demikian, angka tersebut merupakan komitmen perdagangan yang difasilitasi KBRI Yaoundé, bukan nilai transaksi yang secara khusus telah terealisasi dari Bondowoso.
Tape dan Kopi Tarik Perhatian Delegasi
Salah satu hal yang menarik perhatian rombongan adalah beragam produk olahan singkong Bondowoso. Tape manis, kue, hingga puding berbahan singkong dinilai menunjukkan bagaimana komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.
Kopi Bondowoso juga menjadi salah satu produk yang menarik perhatian delegasi. Ketertarikan ini membuka peluang untuk memperkenalkan komoditas unggulan daerah ke pasar yang lebih luas, meski penjajakan tersebut masih perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis, kesesuaian produk, standar mutu, dan mekanisme perdagangan.
Tomy menilai sektor pertanian dan ekowisata menjadi dua bidang yang berpeluang dikembangkan dalam kerja sama Indonesia dan Kamerun.
Kunjungan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun kemitraan yang lebih konkret, mulai dari pertukaran pengetahuan dan teknologi hingga peluang perdagangan yang dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Bagi Bondowoso, tantangan berikutnya adalah mengubah ketertarikan delegasi menjadi kerja sama yang terukur, sehingga potensi kopi, olahan singkong, pertanian, dan ekowisata tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga berpeluang menjangkau pasar internasional.











