Kepala SDN 1 Pekalangan, Susmiati, S.Pd., saat di wawancara di kantornya, Kamis (23/7/2026).
BONDOWOSO, RADAR INDONESIA.com – Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Pekalangan, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pekalangan.
Kepala SDN 1 Pekalangan, Susmiati, S.Pd., menegaskan bahwa sejak sekolahnya mulai menerima penyaluran MBG hingga saat ini, belum ada satu pun keluhan yang masuk, baik dari siswa maupun wali murid.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran program pemerintah ini. Sejak awal pelaksanaan, tidak ada keluhan dari peserta didik maupun wali murid,” ujar Susmiati saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (23/7/2026).
Menurut Susmiati, selain memenuhi kebutuhan gizi siswa, program ini sangat membantu meringankan beban orang tua atau wali murid, sehingga tidak perlu lagi menyiapkan bekal makan ke sekolah.
Sejauh ini, makanan yang disajikan dinilai layak, bersih, dan sesuai standar gizi. Hal ini membuat siswa menyukainya serta lebih bersemangat mengikuti pembelajaran.
Pihak sekolah juga ikut serta melakukan pengawasan agar kualitas, rasa, dan kebersihan makanan tetap terjaga sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sebagai penerima manfaat, kami turut mengawasi menu yang disajikan. Kami juga berkoordinasi secara intens dengan pihak SPPG terkait hal teknis, misalnya penundaan pengiriman jika ada kegiatan sekolah dan hal serupa,” paparnya.
Sekolah juga senantiasa menampung aspirasi dan masukan dari siswa, yang selanjutnya disampaikan kepada pihak SPPG sebagai bahan evaluasi.
“Setiap hari kami menanyakan langsung kepada siswa mengenai menu yang disajikan untuk mengetahui tanggapan mereka. Alhamdulillah, tidak ada keluhan, dan kami sangat mengapresiasi kinerja dapur SPPG Pekalangan,” ungkapnya.
Susmiati menambahkan, berbarengan dengan berjalannya program MBG, para guru juga turut memberikan edukasi gizi agar siswa memahami manfaat makanan yang dikonsumsi sejak dini.
“Selama ini kita terbiasa dengan makanan yang kental dengan bumbu seperti micin dan penyedap rasa, sedangkan MBG rasanya agak sedikit tawar. Hal inilah yang kami sosialisasikan juga kepada anak-anak agar mereka lebih paham,” jelasnya.
Ia menegaskan meski bukan tenaga ahli gizi, setidaknya sebagai pendidik dapat memberikan pemahaman sederhana, misalnya mengenai dampak buruk konsumsi garam dan Monosodium Glutamat (MSG/micin) secara berlebihan bagi kesehatan tubuh.
“Kami mendukung penuh program ini karena tujuannya sangat mulia. Manfaatnya langsung dirasakan siswa, dan kami berharap program MBG dapat terus berkelanjutan, salah satunya guna membantu menekan angka stunting,” pungkasnya.





