BONDOWOSO, RADAR INDONESIA. COM – Ada satu tanggal yang memiliki makna istimewa bagi Bondowoso sekaligus Indonesia: 17 Agustus.
Bagi Indonesia, 17 Agustus 1945 menjadi tonggak Proklamasi Kemerdekaan. Namun jauh sebelumnya, tepat pada 17 Agustus 1819, tanggal tersebut telah menjadi bagian penting dalam sejarah berdirinya Bondowoso.
Kisah tersebut diungkap Supriyadi, keturunan kelima Raden Bagus Asra atau Ki Ronggo, yang menyebut terdapat rangkaian sejarah dan kisah spiritual di balik penetapan tanggal tersebut.
Menurut Supriyadi, sebelum menjadi penguasa wilayah Bondowoso, Ki Ronggo terlebih dahulu melakukan tirakat selama 41 hari di kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu situs bersejarah.
“Waktu itu belum ada bangunan seperti sekarang. Tempat tirakatnya sederhana, bahkan kalau tidur bantalnya menggunakan batu,” ungkap Supriyadi.
Dalam kisah yang diwariskan secara turun-temurun, setelah menjalani tirakat, Ki Ronggo mendapatkan petunjuk. Angka 17 kemudian memiliki arti penting dalam perjalanan spiritualnya.
Angka tersebut dikaitkan dengan 17 rakaat salat wajib dalam sehari serta turunnya Al-Qur’an pada 17 Ramadan.
“Angka 17 itu yang kemudian menjadi sesuatu yang penting. Jadi Bondowoso 17 Agustus 1819, kemudian 126 tahun setelahnya Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945,” jelas Supriyadi.
Kesamaan tanggal tersebut menurutnya menjadi salah satu bagian sejarah Bondowoso yang menarik untuk terus dikaji.
Bahkan, kisah itu pernah ia ceritakan kepada sejumlah tamu dan tokoh yang datang untuk mempelajari sejarah Bondowoso.
Supriyadi juga mengungkap bahwa perjalanan Ki Ronggo bermula dari Besuki. Ia mendapat tugas untuk membuka wilayah baru dan kemudian melakukan perjalanan ke sejumlah tempat.
Jejak perjalanan tersebut diyakini menjadi bagian dari proses awal terbentuknya wilayah Bondowoso.
“Ki Ronggo itu diutus untuk mencari wilayah baru. Dari Besuki kemudian masuk ke Beringin, Kupang dan beberapa wilayah lainnya sampai akhirnya berkembang menjadi Bondowoso,” tuturnya.
Warisan sejarah keluarga Ki Ronggo tidak hanya berupa cerita. Sejumlah benda peninggalan juga masih disimpan dan dirawat, termasuk sebuah blangkon yang disebut telah berusia sekitar 126 tahun.
Bagi Supriyadi, benda tersebut bukan sekadar penutup kepala, tetapi menjadi saksi perjalanan panjang sejarah keluarga dan Bondowoso.
Sebagai keturunan kelima Ki Ronggo, ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal Bondowoso dari sisi geografis, tetapi juga memahami sejarah panjang yang membentuk daerah tersebut.
“Sejarah ini harus terus diceritakan kepada generasi berikutnya agar mereka tahu dari mana Bondowoso berasal dan bagaimana perjalanan para pendahulunya,” pungkasnya.
Dua sejarah, satu tanggal. Bondowoso lahir pada 17 Agustus 1819, Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Selisih 126 tahun, tetapi sama-sama meninggalkan jejak besar pada 17 Agustus.












