BONDOWOSO, RADAR INDONESIA.COM – Kemerdekaan tidak datang begitu saja. Pesan itu digaungkan melalui pagelaran seni dan drama kolosal yang melibatkan sekitar 400 pelajar se Kecamatan Tamanan seusai upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Alun-Alun Tamanan Bondowoso. Senin (17/8/2026).
Tak sekadar menjadi hiburan, pagelaran tersebut dikemas untuk menghidupkan kembali sejarah perjuangan sekaligus menguatkan identitas Bondowoso di tengah generasi muda.
Camat Tamanan Abdul Mufit mengatakan, rangkaian pertunjukan sengaja dikaitkan dengan sejarah dan momentum kemerdekaan agar masyarakat, khususnya pelajar, memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan panjang.
“Ini untuk menguatkan identitas Bondowoso, menunjukkan bahwa kemerdekaan tidak datang begitu saja, sekaligus menghubungkan sejarah dengan HUT RI ke-81,” ujar Mufit.
Beragam penampilan disuguhkan. Mulai dari Babad Bondowoso, Tari Molong Kopi dari SMPN 2 Tamanan, drama kolosal perjuangan melawan Belanda dari SDN 1 Mengen yang mengangkat kisah perjuangan Jenderal Sudirman, hingga kolaborasi SMPN 1 Tamanan dan SMKN 1 Tamanan yang menampilkan kisah Gerbong Maut dan sejumlah tarian.
Persiapannya pun tidak singkat. Para pelajar mulai menjalani latihan sejak 1 Agustus 2026, kemudian mengikuti gladi bersih pada 15 dan 16 Agustus.
“Kurang lebih 400 siswa terlibat dalam pagelaran ini,” jelas Camat Tamanan
Antusiasme guru dan masyarakat selama proses latihan maupun saat pertunjukan menjadi dorongan tersendiri bagi Kecamatan Tamanan untuk menjadikan pagelaran tersebut sebagai agenda rutin setiap tahun.
“Kami berharap setiap tahun bisa dijadikan kegiatan rutin. Apresiasi dan antusiasme para guru serta warga menjadi motivasi bagi kami untuk terus lebih baik,” ujarnya.
Menurut Mufit, momentum HUT RI seharusnya tidak berhenti pada upacara dan seremoni. Semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persatuan, gotong royong dan pembangunan.
Ia berharap masyarakat Tamanan semakin kompak serta mampu memaknai kemerdekaan secara nyata.
“Harapan saya, masyarakat selalu kompak dan mampu menerjemahkan arti kemerdekaan yang sesungguhnya, sehingga Tamanan semakin maju,” pungkasnya.
Dari panggung seni, sejarah kembali hidup. Dari tangan 400 pelajar, semangat perjuangan diwariskan.












