Aktual dan Tajam
RedaksiIndeks

Namanya Bupati Cup, Tapi Bupatinya Tak Pernah Hadir

Radar Indonesia

BONDOWOSO, RADAR INDONESIA. COM — Namanya Bupati Cup, tetapi bupatinya tak pernah membuka. Ironi ini kembali terlihat dalam Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup VI 2026  Bondowoso di Glora Pelita. Kamis malam, 1/10/2026

Sejak gelaran pertama pada 2021 hingga penyelenggaraan keenam tahun ini, Ketua Panitia Bupati Cup VI 2026 Saiful Bahri, menyebut belum pernah ada bupati yang hadir langsung membuka pertandingan.

Padahal, nama kepala daerah justru menjadi identitas utama event tersebut.

“Mulai 2021 sampai 2026, sampai saat ini malam ini, tidak ada bupati yang secara langsung hadir di pembukaan Bupati Cup,” kata Saiful.

Untuk penyelenggaraan tahun ini, Saiful menjelaskan panitia telah mengundang Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid. Namun, setelah pihak panitia menghubungi bupati, diperoleh keterangan bahwa kepala daerah sedang memiliki agenda di luar kota sehingga tidak dapat hadir.

Jadi, persoalannya bukan panitia lupa mengundang.

Undangan sudah disampaikan. Panitia juga telah melakukan komunikasi. Namun, untuk keenam kalinya, pembukaan Bupati Cup tetap berlangsung tanpa kehadiran langsung bupati.

Saiful mengatakan pihaknya tidak ingin menyebut kondisi itu sebagai kekecewaan. Tetapi bagi panitia, kehadiran bupati tetap menjadi harapan karena event tersebut membawa nama kepala daerah.

“Harapan besar kami itu acara yang notabene temanya Bupati Cup, bagaimana ketika bupati sendiri yang langsung bisa membuka kegiatan tersebut,” ujarnya.

Panitia bahkan berharap persoalan jadwal tidak kembali menjadi kendala pada penyelenggaraan berikutnya. Saiful mengatakan pihaknya akan mencoba menyesuaikan waktu pelaksanaan dengan agenda Bupati.

Ketidakhadiran Bupati menjadi sorotan bukan semata karena acara membutuhkan seremoni pembukaan.

Bupati Cup membawa misi pencarian dan pembinaan bibit atlet. Para juara bahkan direncanakan kembali dilatih dan diseleksi untuk diproyeksikan menghadapi Porprov 2027.

Baca juga
Akhir Tragis Pendakian Gunung Piramid: Sepasang Pendaki Ditemukan Meninggal, Dipulangkan dengan Mobil Jenazah

Artinya, yang dipertaruhkan bukan sekadar siapa yang menjadi juara malam itu, tetapi bagaimana pemerintah daerah menunjukkan perhatian terhadap ekosistem pembinaan olahraga.

Hal tersebut juga disoroti Ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Bondowoso Sunargi. Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pencak silat seharusnya tidak berhenti pada event dan seremoni.

Pencak silat, memiliki fungsi lebih luas: menjaga budaya, membangun karakter sekaligus mengembangkan prestasi.

“Pencak silat itu penjaga budaya bangsa,” tegas Sunargi

Namun di balik tuntutan prestasi tersebut, IPSI mengaku masih banyak mengandalkan swadaya.

Tahun ini IPSI menerima dana hibah melalui KONI sebesar Rp25 juta. Dana tersebut, menurut Sunargi, memiliki peruntukan tertentu untuk kegiatan seperti kejuaraan kabupaten dan provinsi. Sementara penyelenggaraan Bupati Cup harus dibiayai secara swadaya.

“Bupati Cup ini murni swadaya. Contohnya pelatihan wasit dan juri, kita bayar ke Surabaya,” ungkapnya.

Di titik inilah ironi itu semakin kentara.

Nama kepala daerah dipakai sebagai nama kompetisi. Pemerintah disebut mendukung. Target prestasi digaungkan. Namun penyelenggara masih harus mengandalkan swadaya untuk menjalankan sebagian kebutuhan kegiatan.

Sunargi berharap pemerintah daerah dan legislatif tidak hanya datang ketika olahraga membutuhkan seremoni, tetapi ikut membuat kebijakan yang memastikan pencak silat memiliki ruang tumbuh.

Salah satunya dengan mendorong pencak silat menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Ia mencontohkan Kabupaten Jember yang telah memberikan ruang tersebut.

“Bagaimana budaya bisa dijaga kalau tidak diberi peluang untuk mengembangkan lewat pendidikan,” katanya.

Enam Kali, Pertanyaan yang Sama

Panitia memahami bupati memiliki agenda pemerintahan. Untuk tahun ini, alasan ketidakhadiran yang disampaikan kepada panitia adalah agenda di luar kota.

Namun, ketika hal serupa disebut terjadi sejak 2021, pertanyaan publik menjadi lebih besar daripada sekadar soal satu malam.

Baca juga
Jajaran Polres Bondowoso Peringati Maulid Nabi Di Musholla Al Fajri,Ini Pesan Kapolres

Mengapa event yang menggunakan nama Bupati Cup selama enam kali penyelenggaraan belum pernah dibuka langsung oleh bupati?

Ini bukan tuntutan agar bupati sekadar hadir untuk memotong pita. Kehadiran kepala daerah dapat menjadi simbol bahwa pembinaan atlet, olahraga dan budaya memang ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan daerah.

Sebab bagi para atlet, pelatih dan pengurus yang selama ini bergerak dengan keterbatasan, kehadiran seorang bupati bukan sekadar formalitas.

Itu adalah pesan tentang seberapa penting mereka dipandang oleh pemerintah daerah.

Dan akhirnya, judulnya tetap menyisakan ironi yang sulit dihindari: Namanya Bupati Cup. Enam kali digelar. Tetapi menurut panitia, bupatinya tak pernah membuka.