BONDOWOSO – RADAR INDOMI.COM – Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis Kabupaten Bondowoso menggelar pertemuan strategis di Wisma Wakil Bupati, Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini mempertemukan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Persagi Bondowoso, serta perwakilan pelaku UMKM dan dinas teknis terkait.
Pertemuan yang dipimpin langsung Ketua Satgas sekaligus Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i, ini membahas langkah penguatan program. Mulai dari pemenuhan kebutuhan bahan pangan, standar kualitas menu, hingga upaya memaksimalkan penggunaan produk lokal sesuai arahan Badan Gizi Nasional.
Saat ini, tercatat ada sekitar 73 dapur MBG yang telah beroperasi di seluruh wilayah Bondowoso. Jumlah ini menciptakan kebutuhan pasokan bahan makanan dalam jumlah besar setiap harinya.
As’ad Yahya menegaskan, kebutuhan besar ini harus dijadikan peluang nyata bagi pelaku usaha dan petani setempat. Tujuannya agar anggaran yang digelontorkan dapat berputar sepenuhnya dan memberi dampak ekonomi langsung bagi warga Bondowoso.
“Kebutuhan bahan untuk dapur MBG sangat besar. Oleh karena itu, kerja sama dengan UMKM dan petani harus terjalin erat agar hasil produksi lokal bisa masuk dan dipakai di dapur-dapur kita,” ujar As’ad.
Ia juga memerintahkan Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) untuk segera melakukan pendataan menyeluruh. Pendataan akan dilakukan hingga ke tingkat desa dan melibatkan Satgas di kecamatan, agar produk lokal terhubung langsung dengan pengelola dapur.
Kepala Diskoperindag, Hergiar Yuli Pramanto, menyambut baik arahan tersebut dan memastikan timnya siap bergerak cepat. “Kami akan segera mendata UMKM di setiap desa agar produk mereka bisa masuk dan bekerja sama secara resmi dengan dapur MBG,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Bondowoso, Molyadi, menambahkan bahwa potensi hasil bumi daerah sangat besar dan harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menopang kebutuhan program ini.
Meski begitu, diakui masih ada beberapa komoditas tertentu seperti jenis buah dan sayuran tertentu yang belum bisa dipenuhi dari produksi lokal, sehingga masih harus didatangkan dari luar daerah melalui pasar induk.
Diharapkan, ke depannya program MBG tidak hanya berfungsi memenuhi gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak roda ekonomi yang kuat melalui keterlibatan aktif UMKM dan petani lokal Bondowoso.(Phong)








