Aktual dan Tajam
RedaksiIndeks

LTMNU Bondowoso Dorong Masjid Jadi Penggerak Ekonomi Umat

Radar Indonesia

BONDOWOSO – radar-indonesia.com Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai pusat pelayanan, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan yang baik, masjid diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi umat sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi jamaah dan lingkungan sekitarnya.

Gagasan tersebut diperkenalkan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PCNU Bondowoso dalam Gebyar Ekonomi Santri (GES) yang berlangsung di Alun-alun Bondowoso, 28 Oktober hingga 4 November 2026.

Pada malam penutupan GES, Rabu (4/11/2026), stan LTMNU PCNU Bondowoso mendapat kunjungan Kepala Bank Jatim Kantor Cabang (KC) Bondowoso Heru Widodo bersama Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso Taufan Restuanto.

Keduanya berharap pengembangan UMKM berbasis masjid dapat menjadi peluang usaha bagi para pengurus takmir. Dengan memiliki usaha produktif, masjid diharapkan mampu membangun sumber pendapatan mandiri untuk mendukung kegiatan, perawatan, dan pengembangan fasilitas.

Kemandirian tersebut menjadi penting agar masjid tidak terus bergantung pada pengajuan proposal maupun meminta amal di jalan untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Ketua LTMNU PCNU Bondowoso, Ahmad Basri Saifur Rahman, menjelaskan bahwa keikutsertaan LTMNU dalam GES bukan sekadar memamerkan produk UMKM. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkenalkan konsep pengembangan masjid yang mampu menjawab kebutuhan umat secara lebih menyeluruh.

Menurutnya, masjid memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pelayanan administrasi, peningkatan kapasitas pengurus, pengembangan ekonomi umat, sekaligus ruang tumbuh berbagai kegiatan produktif masyarakat.

“Konsep kami, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bagaimana memberikan pelayanan kepada umat dan ikut mengurusi pemberdayaan ekonominya. Kami ingin masjid-masjid di Bondowoso semakin mandiri dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki,” jelas Ahmad Basri Saifur Rahman.

Untuk mewujudkan konsep tersebut, LTMNU PCNU Bondowoso mengembangkan program pelayanan administrasi dan pendampingan pengelolaan masjid.

Program ini menyasar masjid-masjid yang masih mengalami keterbatasan dalam administrasi, pengelolaan kelembagaan, maupun pengembangan sumber daya manusia.

LTMNU juga menyiapkan pelatihan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar bagi imam dan bilal. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan, khususnya dalam pelaksanaan ibadah di masjid.

Melalui pendampingan tersebut, LTMNU ingin membangun masjid yang tidak hanya memiliki fasilitas memadai, tetapi juga didukung pengurus yang kompeten, tertib administrasi, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah.

Dengan demikian, fungsi masjid sebagai pusat pelayanan umat dapat berjalan seiring dengan perannya sebagai tempat ibadah.

Baca juga
ADM Perum Perhutani KPH Bondowoso, Terima Lawatan Kerja AKBP Widya Kasubdit Polsus Polda Jatim

Selain pelayanan keagamaan, LTMNU PCNU Bondowoso juga mendorong pengembangan ekonomi umat berbasis masjid.

Menurut Ahmad Basri Saifur Rahman, masjid perlu mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan potensi ekonomi masyarakat. Salah satunya dengan mendorong para pengurus takmir mengembangkan usaha produktif yang dapat menjadi sumber pendapatan bagi masjid.

Dalam stan LTMNU di GES, pengunjung dapat melihat berbagai produk masyarakat, mulai dari pomade hingga sejumlah hasil karya pelaku UMKM lokal.

Produk-produk tersebut menjadi gambaran bahwa masyarakat di sekitar masjid memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pendampingan, promosi, dan kerja sama.

Ahmad Basri menegaskan, masjid tidak seharusnya hanya mengandalkan bantuan dari luar untuk memenuhi kebutuhan pengelolaan dan perawatan.

“Jangan sampai masjid hanya mengandalkan proposal atau mencari sumbangan di jalan. Kami ingin membantu masjid memiliki usaha yang bisa menjadi sumber pendapatan untuk pengembangan, perawatan, dan kemakmuran masjid,” ungkapnya.

Menurutnya, kemandirian ekonomi masjid dapat dibangun melalui usaha yang dikelola secara profesional, melibatkan masyarakat, serta memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

Harapannya, para pengurus takmir tidak hanya menjalankan tugas pelayanan keagamaan, tetapi juga mampu mengembangkan unit usaha yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi jamaah.

Dengan adanya usaha produktif, masjid memiliki peluang untuk membiayai kebutuhan operasional dan pengembangan fasilitas secara lebih mandiri.

Salah satu produk UMKM yang menarik perhatian pengunjung stan LTMNU adalah kopi rempah Mbok Nur dengan merek Sakinah, produk asli Bondowoso.

Mbok Nur, pegiat UMKM kopi rempah asal Kecamatan Tapen, menyampaikan bahwa produknya tidak hanya dipasarkan di wilayah Bondowoso, tetapi juga telah dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM lokal memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas apabila didukung kualitas produk, promosi, dan jaringan pemasaran yang baik.

Pada malam penutupan GES, pengunjung stan LTMNU turut menikmati kopi rempah Mbok Nur. Kehadiran produk tersebut menjadi salah satu daya tarik yang memperkenalkan potensi usaha lokal Bondowoso kepada masyarakat.

Bagi LTMNU, UMKM seperti kopi rempah Sakinah dapat menjadi contoh usaha yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama dengan masjid-masjid.

Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga dapat berperan sebagai mitra pemasaran dan penggerak ekonomi bagi pelaku usaha di lingkungan jamaah.

Baca juga
Resmi Dibuka Bupati, Konferensi Cabang ke-24 PCNU Bondowoso: Momentum Perkuat Struktur dan Sinergi Bangun Peradaban

Dengan jaringan jamaah yang luas dan kedekatan dengan masyarakat, masjid memiliki peluang untuk membantu memperkenalkan produk lokal sekaligus membuka akses pasar bagi UMKM.

Pengembangan usaha tersebut menjadi salah satu langkah konkret agar masjid dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gebyar Ekonomi Santri yang digelar Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Bondowoso menjadi ruang strategis bagi berbagai lembaga NU, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk memperkenalkan potensi usaha.

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Oktober hingga 4 November 2026 tersebut menghadirkan pameran produk UMKM, stan lembaga, pelayanan pemerintah, serta berbagai kegiatan seni dan budaya.

Pada malam penutupan, suasana GES semakin meriah dengan penampilan Majelis Qoof Bondowoso.

Bagi LTMNU, momentum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahwa pemberdayaan ekonomi umat dapat dimulai dari lingkungan masjid.

Masjid memiliki jaringan jamaah, kedekatan dengan masyarakat, serta potensi sosial yang besar. Jika dikelola secara terorganisasi, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk membangun usaha produktif dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Kehadiran berbagai produk UMKM di stan LTMNU sekaligus memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi berbasis masjid dapat dilakukan melalui langkah nyata, mulai dari promosi produk, pendampingan usaha, hingga membangun kemitraan dengan pelaku ekonomi lokal.

Melalui kolaborasi tersebut, masjid diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat yang saling mendukung dan memberikan manfaat berkelanjutan.

Ahmad Basri Saifur Rahman berharap program LTMNU PCNU Bondowoso dapat menjadi inspirasi bagi masjid-masjid untuk mulai mengembangkan potensi ekonomi secara mandiri.

Menurutnya, kemakmuran masjid tidak hanya diukur dari bangunan yang megah, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan jamaah dan masyarakat di sekitarnya.

Melalui pelayanan administrasi, pelatihan imam dan bilal, pendampingan pengelolaan, serta pemberdayaan ekonomi, LTMNU ingin membangun masjid yang mampu menjawab kebutuhan umat secara lebih menyeluruh.

Kehadiran stan LTMNU dalam penutupan GES menjadi gambaran bahwa masjid memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat.

Dengan dukungan pemerintah daerah, lembaga NU, perbankan, pelaku UMKM, dan partisipasi masyarakat, kemandirian ekonomi masjid di Bondowoso diharapkan bukan sekadar gagasan, melainkan gerakan nyata menuju masjid yang semakin makmur dan umat yang semakin berdaya.

Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang ramai jamaahnya, tetapi juga masjid yang mampu menghadirkan manfaat, menggerakkan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.(phong)