Swasthi Bhuawana Krta, Ketika Nama Pendopo Menjadi Doa untuk Bondowoso

Editor Satu

Oleh : Fricas Abdillah

BONDOWOSO, RADAR INDONESIA.COM – Ada sesuatu yang menarik dari sebuah pendopo bupati. Ia bukan sekadar bangunan pemerintahan. Di dalamnya terdapat simbol tentang hubungan antara pemimpin, rakyat, sejarah, dan masa depan sebuah daerah.

Karena itu, seandainya nama “Swasthi Bhuawana Krta” melekat pada Pendopo Bupati Bondowoso layak dibaca lebih jauh. Nama tersebut bukan sekadar penanda sebuah tempat, tetapi dapat dimaknai sebagai sebuah ungkapan filosofis tentang harapan bagi daerah.

Secara filosofis, “Swasthi” dapat dimaknai sebagai keselamatan, kesejahteraan, kebaikan, atau keadaan yang membawa keberkahan. Sementara “Bhuawana” dapat dipahami sebagai dunia, jagat, alam kehidupan, atau ruang tempat manusia menjalani kehidupannya. Sedangkan “Krta” mengandung nuansa makna ketenteraman, kemakmuran, keberhasilan, atau keadaan yang tertata baik.

Jika ketiga unsur itu dibaca sebagai satu kesatuan, “Swasthi Bhuawana Krta” dapat ditafsirkan sebagai sebuah doa agar kehidupan masyarakat dan daerah berada dalam keadaan selamat, tenteram, sejahtera, dan tertata.

Di sinilah nama sebuah pendopo menjadi menarik.

Pendopo adalah ruang pertemuan. Ia mempertemukan pemerintah dengan masyarakat, pejabat dengan tokoh masyarakat, gagasan dengan keputusan, bahkan perbedaan dengan musyawarah.

Maka nama yang mengandung makna keselamatan dan kesejahteraan seakan memberikan pesan moral kepada siapa pun yang berada di dalamnya: kekuasaan harus digunakan untuk menciptakan kebaikan bagi kehidupan bersama.

Pendopo sebagai Rumah Rakyat

Pendopo bupati secara simbolik bukan milik seorang bupati.

Bupati hanya mendapatkan amanah untuk memimpin dalam kurun waktu tertentu. Setelah masa jabatan berakhir, orangnya boleh berganti, tetapi pendopo tetap menjadi bagian dari sejarah daerah.

Karena itu, pendopo semestinya dipahami sebagai rumah bersama.

Di tempat inilah kebijakan dibicarakan. Persoalan masyarakat seharusnya didengar. Aspirasi dipertemukan dengan kemampuan pemerintah. Dan keputusan politik diuji dengan kebutuhan rakyat.

Baca juga
Gelar Koordinasi & Evaluasi Program SPPG MBG Rejoagung Bondowoso, Sekaligus Rayakan Hari Guru Nasional

Dalam konteks tersebut, Swasthi Bhuawana Krta dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pemerintahan pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan kehidupan masyarakat.

Bukan sekadar pembangunan gedung.

Bukan sekadar banyaknya program.

Bukan pula sekadar keberhasilan administratif.

Ukuran akhirnya adalah apakah masyarakat merasakan kehidupan yang lebih aman, lebih adil, lebih sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Nama yang Mengandung Doa

Nama-nama tradisional sering kali memiliki kekuatan karena ia tidak hanya menjelaskan sesuatu, tetapi juga menyimpan doa.

Begitu pula dengan nama pendopo.

Ketika seorang pemimpin memasuki pendopo, ia semestinya tidak hanya melihat bangunan yang megah. Ia juga perlu membaca pesan yang terkandung di dalam namanya.

Swasthi mengingatkan tentang keselamatan dan kebaikan.

Bhuawana mengingatkan tentang ruang kehidupan bersama.

Krta mengingatkan tentang ketenteraman, kemakmuran, dan keteraturan.

Ketiganya dapat menjadi semacam kompas moral pemerintahan: keselamatan rakyat, kehidupan bersama, dan kesejahteraan harus menjadi tujuan utama kekuasaan.

Dari Nama Menjadi Nilai

Tantangan terbesar bukanlah menjelaskan arti sebuah nama, tetapi bagaimana menjadikan arti tersebut sebagai perilaku pemerintahan.

Sebab nama yang indah akan kehilangan maknanya apabila tidak tercermin dalam kehidupan masyarakat.

Jika “Swasthi” berbicara tentang keselamatan, maka pemerintah harus hadir memberikan rasa aman.

Jika “Bhuawana” berbicara tentang kehidupan bersama, maka pembangunan harus memperhatikan seluruh lapisan masyarakat.

Jika “Krta” berbicara tentang kemakmuran dan ketenteraman, maka kebijakan daerah harus mampu membuka kesempatan ekonomi, meningkatkan pelayanan publik, dan mengurangi kesenjangan.

Dengan demikian, nama pendopo tidak berhenti sebagai ornamen kebudayaan.

Ia menjadi etika pemerintahan.

Bondowoso dan Masa Depan

Bondowoso memiliki sejarah, kebudayaan, dan karakter masyarakat yang menjadi modal penting dalam membangun masa depan.

Karena itu, modernisasi daerah tidak harus berarti meninggalkan akar budaya. Justru nilai-nilai budaya dapat menjadi sumber etika untuk mengawal pembangunan.

Baca juga
Manfaatkan Momen Tasyakuran Bupati & Wakil Bupati Bondowoso 2025-2029, ADM Perhutani Bondowoso Galang Sinegritas

Pendopo Swasthi Bhuawana Krta dapat dimaknai sebagai titik temu antara masa lalu dan masa depan.

Di satu sisi, ia membawa jejak tradisi.

Di sisi lain, ia berdiri di tengah tuntutan pemerintahan modern yang membutuhkan inovasi, transparansi, pelayanan, dan keberpihakan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, pendopo bukan hanya tempat seorang bupati bekerja.

Ia adalah simbol bahwa kekuasaan harus memiliki arah.

Dan arah itu, jika kita membaca filosofi Swasthi Bhuawana Kerta, adalah menuju kehidupan Bondowoso yang selamat, tenteram, tertata, dan sejahtera.

Sebab bangunan pemerintahan boleh berganti wajah, pemimpin boleh berganti nama, tetapi pesan yang baik seharusnya tetap diwariskan:

bahwa kekuasaan bukan tentang siapa yang duduk di pendopo, melainkan tentang apa yang diperbuat dari amanah yang dipercayakan rakyat.

Sedikit profil Fricas Abdillah, ia seorang aktivis kelahiran Bondowoso, saat ini aktiv sebagai Presidium KAHMI Bondowoso.

Fricas pernah menjabat sebagai Komisioner Bawaslu Bondowoso dua periode.

Editor: Ubay