Aktual dan Tajam
RedaksiIndeks

Ulfiyah Tantang PPP Bondowoso Bangkit, Satukan Kader dan Rebut Kembali Kursi Politik

Radar Indonesia

BONDOWOSO, RADAR INDONESIA. COM – Persatuan internal dan kekuatan struktur hingga akar rumput menjadi pekerjaan mendesak bagi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Bondowoso. Setelah melewati dinamika internal, partai berlambang Ka’bah itu didorong untuk berhenti terjebak dalam perpecahan dan mulai membangun kekuatan nyata demi merebut kembali posisi politiknya.

Pesan tegas tersebut disampaikan Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah, S.Pd.I., saat menghadiri peringatan Hari Santri dan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus penyerahan Surat Keputusan (SK) kepengurusan PPP di Kantor DPC PPP Kabupaten Bondowoso, Selasa malam (20/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia hadir mewakili pengurus DPW PPP Jawa Timur.

Ulfiyah menilai, penyerahan SK kepengurusan tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi titik balik untuk menyatukan kembali kader, memperbaiki komunikasi internal, dan memastikan mesin partai benar-benar bergerak menghadapi kontestasi politik mendatang.

Menurutnya, PPP Bondowoso membutuhkan soliditas, bukan sekadar kepengurusan di atas kertas. Seluruh elemen partai, mulai dari pengurus, tokoh senior, para masyayikh hingga simpatisan, harus kembali berjalan dalam satu barisan.

“Yang paling utama adalah bagaimana kita kembali merangkul, menyatukan serpihan-serpihan yang mungkin kemarin sempat bercerai-berai. Sekarang saatnya kita kompak kembali untuk mematangkan langkah bersama agar PPP bisa merebut kembali kursi dan kembali ke pendopo,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa target merebut kembali kursi legislatif maupun kekuatan politik di daerah tidak akan tercapai jika persoalan internal dibiarkan berlarut-larut. Persatuan harus dibuktikan melalui kerja organisasi, bukan hanya melalui pernyataan di forum partai.

Struktur Sampai Akar Rumput Jadi Kunci

Ulfiyah menekankan, konsolidasi PPP Bondowoso harus segera diterjemahkan menjadi pembenahan struktur organisasi secara menyeluruh. Kepengurusan di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC), ranting hingga anak ranting perlu dilengkapi dan diperkuat agar keberadaan partai benar-benar terasa di tengah masyarakat.

Baca juga
Pertalite "Langka"di Bondowoso? Komisi 2 Bongkar Biangnya: Pasokan Telat, Warga Keburu Panik!

Baginya, kekuatan partai tidak cukup diukur dari nama-nama yang tercantum dalam SK. Struktur tersebut harus aktif, memiliki komunikasi yang berjalan, serta mampu menggerakkan kader untuk menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

“Dasar yang paling penting adalah memperbaiki dan melengkapi kepengurusan dari tingkat PAC, ranting sampai anak ranting. Ini menjadi bagian dari upaya memperkuat struktur agar PPP bisa kembali naik ke Senayan,” ujarnya.

Dorongan itu menempatkan konsolidasi organisasi sebagai salah satu agenda prioritas PPP. Tanpa jaringan kader yang kuat hingga tingkat bawah, target memperluas dukungan politik berisiko hanya menjadi slogan menjelang pemilu.

Ulfiyah juga mengingatkan pentingnya merawat hubungan dengan tokoh masyarakat, ulama, masyayikh, dan pondok pesantren. Kedekatan dengan kalangan pesantren merupakan bagian penting dari identitas historis PPP yang perlu dijaga sekaligus diperkuat.

Namun, menurutnya, mempertahankan akar tradisi saja tidak cukup. PPP juga harus mampu membaca perubahan sosial dan menjawab kebutuhan kelompok masyarakat yang semakin beragam.

Jangan Hanya Mengandalkan Tradisi, Gen Z Harus Didekati

Salah satu tantangan yang disoroti Ulfiyah adalah bagaimana PPP menarik minat generasi muda, khususnya Generasi Z. Kelompok ini memiliki ruang besar dalam membentuk opini publik melalui media sosial dan berpotensi menjadi kekuatan penting dalam peta politik ke depan.

Karena itu, PPP didorong untuk menghadirkan program kepemudaan yang konkret, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Pendekatan kepada anak muda tidak cukup dilakukan melalui kegiatan formal atau mengandalkan kedekatan dengan tradisi keagamaan semata.

“Kita harus menyentuh adik-adik kita dari kalangan Gen Z agar mereka mencintai PPP. Kita tidak hanya menjadi partai yang terlihat melalui kegiatan sarungan dan pengajian, tetapi juga harus mengakomodasi program-program kepemudaan dan hal lainnya,” ungkapnya.

Baca juga
Kabupaten Lumajang Berhasil Meraih Banyak Penghargaan Tingkat Regional Maupun Nasional

Pesan tersebut menegaskan bahwa tantangan PPP bukan hanya mempertahankan basis pemilih lama, tetapi juga membangun relevansi di mata generasi baru. Partai perlu membuka ruang bagi gagasan, kreativitas, dan partisipasi anak muda agar mereka tidak sekadar menjadi sasaran kampanye, melainkan turut terlibat dalam proses politik.

Bagi Ulfiyah, penguatan identitas keislaman, kedekatan dengan pesantren, dan inovasi program kepemudaan bukanlah hal yang harus dipertentangkan. Ketiganya justru perlu berjalan beriringan untuk memperluas jangkauan partai di tengah masyarakat.

Konsolidasi Harus Berujung pada Kerja Nyata

Ulfiyah berharap, penyerahan SK kepengurusan menjadi awal dari konsolidasi yang berkelanjutan, bukan akhir dari proses pembenahan organisasi. Soliditas kader, kelengkapan struktur, serta kemampuan menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat harus menjadi tolok ukur pergerakan PPP ke depan.

Ia juga menegaskan bahwa penguatan struktur merupakan pekerjaan bersama PPP di Jawa Timur, termasuk dalam mempersiapkan partai menghadapi kontestasi politik mendatang.

Dengan demikian, tantangan bagi PPP Bondowoso kini bukan sekadar menyelesaikan administrasi kepengurusan, melainkan membuktikan bahwa seluruh struktur yang telah terbentuk benar-benar hidup dan bekerja.

Sebab, keinginan merebut kembali kursi politik dan kembali ke pendopo membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. PPP harus mampu menyatukan kader, memperluas jaringan hingga akar rumput, mendekati generasi muda, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui kerja yang terukur dan berkelanjutan.